Keterangan Gambar : Pusat Perubahan Iklim (PPI) ITB menggelar talkshow interaktif El Nino Sangat kjat 2026-2027 dan potensi Dampaknya di Indonesia, di Gedung PAU ITB , Jalan Ganesha, Kota Bandung, Kamis (13/8/2026)(KOMPAS.COM/AGIE PERMADI)
Peneliti ITB Ingatkan Potensi El Nino Kuat hingga Ekstrem, Pertanian dan Air Bersih Terancam
BANDUNG, KOMPAS.com - Pusat perubahan Iklim (PPI) Institute Teknologi Bandung (ITB) mengingatkan potensi El Nino kuat hingga ekstrem yang diperkirakan berkembang dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini dapat memengaruhi berbagai sektor terutama pertanian, ketersediaan air bersih, dan kebencanaan. Para peneliti juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dan mitigasi untuk mengurangi risiko dampak kekeringan. Kepala PPI ITB, Prof Ir Djoko Santoso Abi Suroso, mengatakan bahwa fenomena El Nino ekstrem bukan hal baru bagi Indonesia. Sejumlah peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun 1997, 2015, dan 2023 dengan tingkat dampak yang berbeda-beda.
"Secara historis, kita sudah sering mengalami ini ya, ekstrem El Nino, '97 misalnya, yang cukup besar, dan waktu itu berdampak cukup serius, kemudian 2015. Nah, harapannya dengan membahas ini, penanganannya bisa dipersiapkan lebih baik," kata Djoko usai Talkshow El Nino dan Potensi Dampaknya di Gedung PAU ITB, Kamis (13/8/2026). Menurutnya, tingkat risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh bahaya (hazard) berupa kekeringan akibat El Nino, tetapi juga oleh tingkat kerentanan masyarakat dan kapasitas dalam menghadapinya. "Kalau kita akan menerima hazard kekeringan tahun ini, maka kita bisa mempersiapkan mengurangi kerentanannya dengan meningkatkan kapasitas kita," kata Djoko.
a menjelaskan indeks El Nino yang diukur melalui fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan tren peningkatan sejak Juni. Namun, ia menegaskan belum dapat dipastikan apakah fenomena tahun ini akan menjadi yang paling parah dibandingkan periode sebelumnya. "Jadi, apakah ini yang lebih parah dan lain sebagainya, kita tidak bisa men-judge itu ya. Tapi, yang jelas kalau ukurannya indeks, karena ENSO ini kan diukurnya dengan indeks, perbedaan suhu koordinat tertentu di Pasifik dengan perairan Indonesia. Sekarang menunjukkan mulai dari Juni itu indeksnya mulai naik dan tadi akan menuju ekstrem atau sangat kuat tadi ya," kata Djoko.
Ketua Tim Pakar PPI ITB Dr. Tri Wahyu Hadi mengatakan salah satu indikator yang umum digunakan adalah indeks Nino 3.4. Menurutnya, nilai indeks di atas dua sudah dikategorikan kuat. "Nino 3.4. Itu di atas 2 itu sudah sangat kuat ya," katanya Tri menjelaskan dampak El Nino tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan fenomena itu sendiri, tetapi juga faktor iklim lain yang dapat memperkuat atau memperlemah dampaknya.
ia menyebut beberapa contoh kejadian fenomena El Nino pada tahun 2015 yang bisa dikatakan ekstrem hingga muncul istilah Godzila, kemudian pada tahun 1997 yang dikategorikan kuat karena datang bersamaan dengan Dipole Mode Positif. "Jadi, ada faktor lain yang bisa memperkuat dampak atau hanya El Nino saja itu mungkin dampaknya tidak sekuat kalau disertai dengan fenomena lain tadi," kata Tri. Tri menyebut sektor pertanian, khususnya tanaman padi, menjadi sektor yang paling sensitif terhadap El Nino jika tidak memiliki kesiapan yang matang. Selain itu, ketersediaan air bersih dan potensi kebakaran hutan juga perlu diwaspadai. "Sektor yang paling sensitif tentu pertanian ya, terutama pertanian padi. Kebencanaan, air bersih tadi, ketersediaan air. Kemudian juga ada bencana ikutan, kolateral tadi, kebakaran hutan. Saya kira itu yang paling sensitif," ungkapnya.
Hal ini diperkirakan akan berdampak pada produktivitas sektor pertanian. "Dengan adanya El Nino kuat itu bisa mundur sampai ke awal Januari, atau bahkan pertengahan gitu. Sekali lagi tadi ya, artinya itu akan berdampak besar ke pertanian. Karena biasanya petani nanam di Desember atau November bahkan, tapi harus mundur ke Januari dan itu akan menurunkan produktivitas cukup signifikan gitu," kata Tri.
Namun di sisi lain, Tri mengatakan El Nino juga dapat memberikan dampak positif pada sejumlah sektor. Berdasarkan hasil penelitian, fenomena tersebut berpotensi meningkatkan hasil perikanan tangkap di perairan selatan Indonesia akibat proses Upwelling yang membawa nutrisi ke permukaan laut. "Jadi, naiknya air dingin dari laut dalam ke atas, ke permukaan, dan itu meningkatkan nutrisi untuk ikan di situ," ucapnya.
Menurut Tri, meski Padi menjadi sektor paling sensitif terhadap fenomena El Nino, namun hal tersebut bisa ditanggulangi dengan keberagaman pangan di Indonesia yang dapat dimanfaatkan di setiap daerah. "Kalau padi tidak ada, bisa makan sagu. Sampai kalau di Sunda itu ada kawung ya, aren, itu batangnya juga masih bisa dimakan gitu ya, bikin tepung gitu. Nah, jadi saya kira banyak hal yang kita punya dan bisa kita gunakan untuk menangani kondisi kekeringan," katanya. Djoko menambahkan bahwa dampak El Nino tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Menurut dia, tingkat keparahan dampak dapat berbeda-beda antar daerah. "Satu hal yang tidak boleh kita lupakan, secara spasial ini keparahan dampak ini kan berbeda-beda ya. Bahkan, ada wilayah tertentu di Indonesia misalnya sebagian wilayah di Kalimantan Utara itu mungkin curah hujannya malah tinggi," katanya. Tri mengimbau kepada masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan serta kapasitas penyimpanan air sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan yang lebih tinggi dari biasanya.
Tim Redaksi: Agie Permadi, Eris Eka Jaya Tim Redaksi
Sumber Berita: Kompas.com
CCC ITB