Menghadapi Perubahan Iklim: Kajian Debit Andalan DAS Citarum Hulu hingga 2060

Keterangan Gambar : Dokumentasi Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air 2026


Jakarta, 30 April 2026 - Pusat Perubahan Iklim ITB bersama Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum merilis kajian terbaru mengenai dampak perubahan iklim terhadap debit andalan di Sub DAS Citarum Hulu. Kajian ini mengungkap bahwa perubahan pola curah hujan akibat pemanasan global berpotensi memengaruhi ketersediaan air di salah satu wilayah strategis di Jawa Barat yang menopang kebutuhan domestik, pertanian, industri, hingga energi.

Kajian berjudul “Kajian Dampak Perubahan Iklim pada Debit Andalan Sub DAS Citarum Hulu: Curah Hujan dan Debit Andalan Baseline” tersebut menyoroti proyeksi perubahan hidrologi hingga tahun 2060 berdasarkan dua skenario emisi global IPCC terbaru, yaitu SSP2-4.5 dan SSP5-8.5. Kedua skenario tersebut merepresentasikan tingkat emisi gas rumah kaca menengah hingga tinggi yang berpengaruh terhadap perubahan iklim global di masa depan.

Sub DAS Citarum Hulu memiliki peran vital sebagai penyedia air baku, irigasi pertanian, pasokan industri, serta sumber energi bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Jawa Barat dan sekitarnya. Karena itu, perubahan pola curah hujan dan debit sungai di kawasan ini dinilai dapat berdampak langsung terhadap ketahanan sumber daya air dan stabilitas berbagai sektor strategis.

Dalam penelitian ini, tim peneliti menggunakan pendekatan pemodelan hidrologi HEC-HMS dengan memanfaatkan data curah hujan satelit GPM IMERG, CHIRPS, serta proyeksi iklim CMIP6. Sebanyak 15 model iklim global dievaluasi, kemudian dipilih enam model terbaik berdasarkan kinerja statistik, meliputi resolusi spasial, nilai korelasi, dan tingkat kesalahan terkecil (Root Mean Square Error/RMSE).

Hasil analisis menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan curah hujan pada musim basah dan penurunan curah hujan pada musim kemarau pada periode proyeksi 2031–2060. Perubahan pola tersebut berdampak pada penurunan debit andalan sungai, terutama selama musim kering.

Simulasi menunjukkan bahwa debit andalan pada berbagai tingkat keandalan  mulai dari Q80, Q90, Q95, hingga Q99 mengalami penurunan dibandingkan kondisi baseline saat ini. Penurunan paling signifikan diproyeksikan terjadi pada bulan Juni hingga Oktober, terutama pada skenario SSP5-8.5.

Pada beberapa kondisi ekstrem, debit andalan mendekati nilai minimum historis, yang mengindikasikan meningkatnya risiko kekeringan hidrologis dan periode low flow yang lebih panjang di masa mendatang. Kondisi ini berpotensi memengaruhi pasokan

air baku, kebutuhan irigasi, serta operasional PLTA pada musim kemarau.


Foto: Dokumentasi Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air 2026

Muhammad Suhardjono Fitriyanto, M.Sc., expert dari Pusat Perubahan Iklim ITB, hadir dalam sesi Kajian Dampak Perubahan Iklim pada Debit Andalan Sub DAS Citarum Hulu: Curah Hujan dan Debit Andalan Baseline, Jakarta, Jumat, 30 April 2026.

Di sisi lain, penelitian juga menemukan bahwa intensitas puncak debit pada musim hujan cenderung mengalami penurunan dibandingkan kondisi baseline. Temuan ini menunjukkan adanya perubahan distribusi musiman aliran sungai yang dapat memengaruhi ketersediaan air pada awal musim tanam dan meningkatkan tantangan pengelolaan sumber daya air lintas sektor.

Direktorat Bina Teknik SDA menilai hasil kajian ini penting sebagai dasar penguatan kebijakan pengelolaan sumber daya air yang adaptif terhadap perubahan iklim. Salah satu rekomendasi utama yang dihasilkan adalah perlunya integrasi aspek perubahan iklim ke dalam revisi SNI 6738:2015 tentang Perhitungan Debit Andalan Sungai dengan Kurva Durasi Debit.

Selain rekomendasi teknis, kajian ini juga mendorong penguatan tata kelola sumber daya air melalui pembaruan data hidrologi, peningkatan kapasitas pemangku kepentingan, serta pengembangan sistem informasi hidrologi yang terintegrasi dan adaptif terhadap risiko iklim.

Melalui kajian ini, pemerintah diharapkan dapat memperkuat strategi adaptasi perubahan iklim dalam pengelolaan DAS Citarum Hulu guna menjaga keberlanjutan pasokan air bagi masyarakat, sektor pertanian, industri, dan energi di masa depan.

Penulis: Ivan Fadila Putra
Redaktur: Yonatan Kurniawan