Forum Diskusi PERHIMPI : Meski El Nino Tetap Tanam dan Panen
Selasa, 7 April 2026, Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI) menggelar Forum Diskusi #1 secara daring dengan tema “Meski El Niño, Tetap Tanam dan Panen”. Acara ini menghadirkan narasumber dari BMKG, Balai Riset dan Monitoring Pertanian (BRMP), serta Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI) Indramayu. Diskusi dipandu oleh Ketua Umum PERHIMPI, Prof. Dr. Yonny Koesmaryono.
Dalam pemaparannya, Dr. A. Fachri Radjab, S.Si., M.Si. dari BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih awal, lebih kering, dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dengan sebagian besar wilayah mengalami curah hujan di bawah normal. Kondisi El Niño lemah hingga moderat berpotensi memperburuk situasi, sehingga mitigasi sektor pertanian dan ketersediaan air menjadi sangat penting. Ia menambahkan bahwa indikator yang lebih representatif dalam menilai risiko kemarau bisa berbeda tergantung komoditas, namun BMKG menekankan pentingnya melihat durasi puncak hujan dan panjangnya musim kemarau. Sekitar 57,2% wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau lebih panjang, sehingga aspek konservasi sumber daya air, efisiensi pemanfaatan, dan perlindungan masyarakat rentan menjadi bagian dari langkah adaptif yang holistik.
Sementara itu, Dr. Haris Syahbuddin dari Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan (BRMP) menekankan konsep “Air Sedikit, Tetap Cukup” sebagai strategi adaptasi. Ia menyoroti pentingnya panen air melalui embung kecil, dam parit, long storage, dan pompanisasi, serta penggunaan varietas unggul adaptif seperti Inpari, Inpago, Bima, Lamuru, Inata, dan Sembrani. Menurutnya, El Niño bukan alasan untuk berhenti menanam, melainkan momentum untuk berinovasi dalam pengelolaan sumber daya.
Dari sisi lapangan, Bapak Tarsono dari Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI) Indramayu berbagi pengalaman petani dalam memanfaatkan Warung Ilmiah Lapangan (WIL) untuk mengukur curah hujan harian dan menyusun strategi kolektif. Ia merekomendasikan agar musim tanam kedua tetap dilaksanakan dengan menggunakan varietas genjah, memaksimalkan pompanisasi, dan menerapkan hemat air. Namun, ia juga mengingatkan bahwa proses penyelarasan pola tanam bisa menghadapi tantangan seperti serangan hama. Kearifan lokal seperti pranata mangsa disebut masih relevan sebagai panduan adaptasi.
Diskusi interaktif turut menyoroti kombinasi dampak ENSO, IOD positif, dan angin monsun timur dari Australia terhadap variabilitas cuaca dan iklim Indonesia. Dr. A. Fachri Radjab, S.Si., M.Si menjelaskan bahwa kondisi ENSO pada Maret masih netral, namun akhir April diperkirakan mulai masuk fase El Niño lemah, yang kemudian berkembang menjadi El Niño kuat pada Agustus–September. BMKG berkomitmen memberikan pembaruan informasi secara berkala agar masyarakat dan sektor pertanian dapat menyesuaikan strategi adaptasi. Selain itu, layanan cepat BMKG termasuk hotline 196 juga menjadi salah satu instrumen penting dalam penyediaan informasi iklim dan kebakaran hutan/lahan.
Gambar: Tangkapan Layar Forum Diskusi PERHIMPI Melalui Platform Zoom
Forum Diskusi #1 PERHIMPI menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan semata ditentukan oleh banyaknya air, melainkan oleh kecerdasan dalam mengelola air yang tersedia. Tantangan El Niño digambarkan layaknya “Godzilla” yang datang menguji ketahanan sistem pertanian: besar, menakutkan, dan berpotensi merusak. Namun dengan inovasi panen air, penyesuaian pola tanam, dan pemilihan varietas adaptif, petani Indonesia diyakini mampu menjinakkan ancaman tersebut dan tetap menanam serta panen meski menghadapi El Niño 2026
Penulis: Ivan Fadila Putra
Redaktur: Yonatan Kurniawan
CCC ITB