Climate Change Center ITB Gelar Sharing Session tentang Sains Basis Iklim Laut Dengan Badan Informasi Geospasial (BIG)

Keterangan Gambar : Pusat Perubahan Iklim 2025


Bandung, 7 November 2025 — Dalam rangka memperkuat pemahaman dan respons terhadap perubahan iklim kelautan, Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Climate Change Center ITB menyelenggarakan Sharing Session bertema “State of Knowledge of Ocean Climate Science in Indonesia”. Acara yang berlangsung di DRI Institut Teknologi Bandung secara hybrid ini menghadirkan Dr. Ibnu Sofian, M.Eng, selaku deputi Infrastruktur Informasi Geospasial BIG, sebagai pembicara utama.


Keterangan gambar: Suasana Sharing Session di DRI ITB membahas pemodelan iklim laut dan risiko pesisir bersama Dr. Ibnu Sofian, M.ENG

Sesi ini menjadi momentum penting untuk mengungkap hasil pengembangan Regional Ocean Model of the Indonesian Seas, sebuah sistem pemodelan laut berbasis numerik yang dirancang untuk memproyeksikan dampak perubahan iklim terhadap wilayah pesisir Indonesia. Model ini menggabungkan data atmosfer dari NCEP, NOGAPS, NAVGEM (baseline) dan MIROC5 (projection), serta menggunakan pendekatan ROMS yang di-decouple dengan NEMURO-NPZ untuk simulasi regional.

Dampak Nyata Perubahan Iklim Laut

Dalam paparan dan diskusi yang berlangsung, menjelaskan dampak krusial dari perubahan iklim laut di Indonesia yaitu terjadinya:

  • Kenaikan muka air laut (Sea Level Rise) yang mengancam wilayah pesisir dan memperparah banjir rob.
  • Kerusakan ekosistem, termasuk pemutihan karang dan penurunan biodiversitas akibat pengasaman laut.
  • Suhu ekstrem dan kekeringan yang mengganggu ketahanan pangan, menurunkan hasil panen, dan memicu migrasi stok ikan.
  • Kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, meningkatkan risiko kecelakaan kapal dan gangguan transportasi laut.

Studi kasus di Semarang menunjukkan laju penurunan tanah hingga 8,5 cm/tahun, yang disebabkan oleh beban bangunan berlebih, ekstraksi air tanah, pergerakan lempeng tektonik, dan intrusi air laut.

Teknologi Pemodelan dan Proyeksi Masa Depan

Model laut regional yang dikembangkan BIG memiliki resolusi spasial tinggi (2,5 km) dan 35 lapisan vertikal, memungkinkan simulasi yang detail dari tahun 1960 hingga proyeksi tahun 2100. Hasil model menunjukkan:

  • Proyeksi gelombang ekstrem hingga tahun 2060 meningkat 0,2 hingga 1 meter, meningkatkan risiko erosi pantai dan gangguan pelayaran.
  • Tren kenaikan muka air laut di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Manila menunjukkan urgensi adaptasi berbasis data.

Ke depan, BIG merencanakan pengembangan model global yang mencakup biogeokimia laut, seperti perubahan konsentrasi nitrat dan arah pergerakan ikan. Model ini akan didukung oleh data atmosfer dari ECMWF dan skenario CMIP6 SSP5-8.5 hingga tahun 2100.

Integrasi AI dan Geospasial Computing

Sebagai bagian dari transformasi digital, BIG juga mengembangkan sistem berbasis AI Tools yang didasari oleh sains dan kebutuhan pengguna, dengan mesin pemrosesan berbasis Supermap Engine. Sistem ini memungkinkan:

  • Analisis spasial otomatis untuk prediksi banjir dan kekeringan.
  • Simulasi alokasi sumber daya air dan ketahanan pangan.
  • Visualisasi data geospasial secara real-time melalui platform cloud dan Live Access Services (LAS).


Keterangan gambar: Dr. Ibnu Sofian, M.ENG memaparkan model aksi iklim berbasis AI dan fisika dalam Sharing Session

Kolaborasi Strategis untuk Ketahanan Iklim

Acara ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga pemerintah dan akademik dalam membangun sistem informasi iklim yang tangguh dan adaptif. Climate Change Center ITB turut mendorong integrasi ilmu kelautan, teknologi geospasial, dan kebijakan adaptasi iklim. Dengan pendekatan berbasis data dan teknologi, BIG dan mitra akademik berkomitmen untuk memperkuat ketahanan pesisir Indonesia dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks.

Penulis: Ivan Fadila Putra
Redaktur: Nabilah Shafira Mileniannti