Melalui Training of Trainers, PPI ITB dan AFD Dorong Ketahanan Iklim Sistem Ketenagalistrikan PLN

Keterangan Gambar : Foto Pusat Perubahan Iklim 2025


Bandung, Desember 2025 – Perubahan iklim semakin menimbulkan risiko nyata bagi sistem ketenagalistrikan nasional, mulai dari gangguan operasi pembangkit, kerentanan jaringan transmisi dan distribusi, hingga potensi kerugian ekonomi akibat bencana hidrometeorologi. Menyadari tantangan tersebut,

Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (PPI ITB) bekerja sama dengan Agence Française de Développement (AFD) menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) bagi PT PLN (Persero) bertajuk “Climate Change Risk, Adaptation, and Resilience Training Modules for PT PLN (Persero)”.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas berjenjang yang dirancang untuk memperkuat pemahaman dan kemampuan teknis PLN dalam mengelola risiko perubahan iklim secara sistematis. Kegiatan ToT difokuskan pada pelaksanaan Kurikulum 1 (Basic Knowledge) dan Kurikulum 2 (Technical Knowledge for Climate Risk Assessment), sebagai fondasi bagi pengembangan solusi adaptasi dan transformasi ketahanan iklim di lingkungan PLN yang dilaksanakan selama lima hari penuh.

Membangun Fondasi Pemahaman Risiko Iklim

Pelaksanaan Kurikulum 1 yang berlangsung pada 11–12 Desember 2025 diarahkan untuk memperkuat pemahaman dasar peserta mengenai sains perubahan iklim, variabilitas iklim, serta keterkaitannya dengan subsistem ketenagalistrikan. Peserta diperkenalkan pada konsep risiko iklim, kerentanan, dan adaptasi, sekaligus memahami bagaimana perubahan suhu, curah hujan, dan kejadian ekstrem dapat memengaruhi pembangkitan, transmisi, dan distribusi listrik.

Selain pembahasan konseptual, pelatihan ini juga menekankan pentingnya literasi data iklim. Peserta berlatih memahami parameter statistik iklim dan mengaitkannya dengan pengambilan keputusan operasional. Diskusi yang berkembang menegaskan bahwa data iklim tidak hanya berfungsi sebagai informasi ilmiah, tetapi menjadi dasar penting dalam perencanaan adaptasi dan perlindungan aset ketenagalistrikan.

“Data iklim bukan sekadar angka, tetapi dasar pengambilan keputusan yang dapat melindungi aset dan menjaga keandalan sistem kelistrikan,” ungkap salah satu fasilitator dari PPI ITB dalam sesi diskusi.

Pendalaman Teknis Penilaian Risiko Iklim

Memasuki Kurikulum 2 yang dilaksanakan pada 17–19 Desember 2025, fokus pelatihan bergeser pada penguatan kemampuan teknis analisis risiko iklim. Peserta dibekali pemahaman ilmiah mengenai dampak iklim terhadap aset dan proses bisnis PLN, serta metode untuk membedakan dampak iklim dan non-iklim dalam konteks operasional.

Melalui pendekatan pembelajaran interaktif, peserta mempelajari analisis bahaya iklim, pemetaan sederhana, serta analisis kerentanan berbasis komponen exposure dan sensitivity sesuai kerangka ISO 31000 dan ISO 14091. Penggunaan perangkat analisis seperti Python dan Google Colab memungkinkan peserta melakukan eksplorasi data spasial dan temporal, termasuk proyeksi curah hujan dan identifikasi potensi risiko kekeringan maupun banjir.

Studi kasus banjir dan longsor di Jawa Barat menjadi contoh nyata bagaimana perubahan iklim dapat memunculkan risiko baru bagi infrastruktur ketenagalistrikan. Diskusi ini menegaskan pentingnya pendekatan antisipatif dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin kompleks.

“Kita membutuhkan sistem antisipasi yang lebih kuat dan berbasis analisis, bukan hanya respons reaktif terhadap kejadian bencana,” tegas Dr. Tri Wahyu Hadi, Atmospheric Climate and Hazard Expert, dalam salah satu sesi pelatihan.

Dari Analisis ke Pengambilan Keputusan

Pada hari terakhir, peserta diarahkan untuk mengintegrasikan hasil analisis bahaya dan kerentanan ke dalam penyusunan profil risiko iklim serta mengaitkannya dengan opsi adaptasi yang relevan. Latihan ini mencakup penilaian risiko pada aset transmisi, analisis implikasi bisnis, hingga estimasi potensi kerugian akibat gangguan operasional, sehingga peserta dapat memahami konsekuensi ekonomi dari risiko iklim secara lebih konkret.

Melalui pendekatan ini, pelatihan tidak hanya meningkatkan kapasitas teknis peserta, tetapi juga memperkuat kemampuan mereka dalam menerjemahkan analisis ilmiah menjadi dasar pengambilan keputusan adaptasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Memperkuat Mekanisme Pembelajaran Berkelanjutan

Sebagai Training of Trainers, kegiatan ini dirancang untuk memastikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat disebarluaskan secara efektif di internal PLN. Peserta diharapkan tidak hanya menjadi pengguna analisis risiko iklim, tetapi juga fasilitator pembelajaran yang mampu mendukung penguatan kapasitas organisasi secara berkelanjutan.

Foto: Dokumentasi Pusat Perubahan Iklim 2025

Penulis: Ivan Fadila Putra
Redaktur: Yonatan Kurniawan