Nelayan Kecil Tak Dapat Andalkan Feeling Lagi

DSCF9601 - Copy Sebagai bangsa pelaut, nelayan di Nusantara ini pasti memiliki feeling yang kuat baik dalam navigasi pelayaran maupun dalam menentukan waktu dan posisi menangkap ikan di laut. Namun kini semakin banyak nelayan –khususnya nelayan kecil dengan kapal bertonase maksimum 5 gross ton– terbingung-bingung dengan musim dan lokasi penangkapan ikan yang biasa disebut dengan “fishing ground”. Sebagai contoh nelayan kecil di Muncar Banyuwangi dan Cilacap yang sejak dahulu memiliki feeling kapan beralihnya musim angin barat ke musim angin timur untuk memulai kegiatan penangkapan ikan secara intensif karena kondisi laut yang tenang. Kondisi laut yang tenang pada musim timur akan menyebabkan ikan-ikan banyak menepi sehingga nelayan relatif lebih mudah menjaring ikan. Nelayan di sana dulunya juga mempunyai intuisi yang kuat mengenai kapan terjadi musim barat (nelayan menyebutnya musim saat angin utara atau tandes) dimana kondisi laut tidak tenang disebabkan adanya badai dan gelombang tinggi. “Seperti sekarang ini kan sedang angin utara atau tandes. Kebanyakan kami tidak bisa melaut karena angin kencang dan ombak sangat besar. Tetapi kalau kencang dari arah timur masih bisa diterjang karena bisa ngumpet di Teluk Sembulungan. Kalau angin utara seperti hari ini perahu besar pun tidak bisa keluar,” keluh Nurcahyono, seorang nelayan kecil di Muncar, pada Bulan Maret 2016. Tanda-tanda alam menjadi “indikator” pokok dalam membentuk feeling nelayan tersebut, misalnya jika ada kumpulan awan yang menggumpal kecil-kecil di langit di situ tanda akan banyak terdapat ikan yang bisa ditangkap. Bagi nelayan kecil Cilacap, tanda alam yang digunakan adalah berbunganya pohon randu yang menandakan bahwa ikan sedang banyak-banyaknya. Pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun temurun itu menjadi kearifan yang khas. Namun demikian, beberapa bulan belakangan ini hampir semua nelayan merasa bahwa pengetahuan atau kearifan lokal tersebut tidak tepat lagi untuk digunakan dikarenakan musim yang tidak menentu. Nelayan sulit mendapatkan ikan di bulan-bulan yang biasanya mudah mendapatkan ikan atau munculnya ikan tidak menentu lagi seperti dulu. “Biasanya kami pakai feeling seperti kalau pohon randu berbunga berarti itu tanda-tandanya sudah mulai banyak ikan dan kami akan mudah mendapatkan ikan. Nelayan di Cilacap selalu menggunakan feeling dan biasanya tepat namun sekarang meleset semua,” jelas salah satu nelayan kecil di Cilacap pada Bulan Desember 2016. Dalam kondisi seperti ini, tentu peran ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menjadi penting dalam membantu nelayan melakukan aktivitasnya untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dalam membantu aktivitas melaut nelayan dibutuhkan kombinasi antara pengetahuan fisika terkait pola arus dan suhu air laut, biologi untuk perikanan laut, teknologi satelit untuk penginderaan jauh, teknologi komputasi untuk analisis citra satelit, pemodelan kelautan, dan proyeksi perubahan iklim beberapa tahun ke depan, serta teknologi informasi baik yang berbasis web maupun android untuk penyaluran informasi kepada nelayan. Pada saat ini, dengan bantuan dana dari USAID melalui Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Bappenas, Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (PPI)-ITB sedang berusaha memproduksi peta fishing ground atau peta prakiraan potensi perikanan yang dipengaruhi oleh perubahan dan variabilitas iklim. Peta-peta tersebut dihasilkan untuk empat wilayah studinya yaitu Pelabuhan Ratu Sukabumi, Cilacap, Banyuwangi, dan Pangandaran, dengan sasaran agar dapat dimanfaatkan oleh para nelayan kecil setempat sekaligus dapat membantu konservasi ekosistem pesisir seperti terumbu karang dan mangrove. Diharapkan para nelayan dapat langsung menuju ke wilayah tersebut tanpa menghabiskan bahan bakar yang relatif lebih banyak karena masih mencari-cari titik berkumpulnya ikan. Pemerintah daerah pun dapat memanfaatkan peta-peta tersebut bagi perencanaan terkait pembinaan nelayan kecil maupun rencana zonasi pesisir. Identifikasi potensi lokasi penangkapan ikan yang dihasilkan berdasarkan interpretasi dari citra satelit MODIS dengan parameter suhu permukaan laut dan klorofil-a. Informasi tersebut juga didukung dengan hasil pemodelan kelautan menggunakan simulasi komputer dengan performa tinggi. Tentu dibutuhkan sosialisasi penggunaan peta fishing ground agar nelayan dapat membaca peta yang berisi konten IPTEK tersebut dengan baik. Nelayan kecil di Cilacap dan Pangandaran sudah menerima penjelasan mengenai cara membaca peta tersebut sedangkan sosialisasi kepada nelayan di Muncar dan Pelabuhan Ratu akan dilaksanakan pada Bulan Februari 2017 mendatang. Di samping itu, hal yang harus diperhatikan pula adalah sistem penyebaran informasi prakiraan potensi ikan dan cuaca secara berkala kepada para nelayan mengingat kondisi laut yang dinamis. PPI-ITB masih merumuskan sistem yang cocok untuk diterapkan di keempat wilayah studi apakah informasi akan disebarkan melalui SMS, papan pengumuman di setiap pelabuhan, atau dengan sistem lain yang lebih efektif. Pusat Perubahan Iklim (PPI)-ITB Januari 2017

Berita Terkait