Kajian Kerentanan DBD di Kota Semarang bekerjasama dengan Mercycorps

dokcilMereka begitu bersemangat dalam melakukan tugasnya, menyusuri setiap sisi sekolah tempat mereka belajar bahkan hingga ke setiap sudutnya, hanya untuk mencari barang-barang atau benda yang sekiranya berpotensi sebagai tempat sarang nyamuk Aedes Ageypti yang merupakan nyamuk penyebab Penyakit Demam Berdarah Dengue. Tidak hanya di sekolah saja, mereka juga aktif melakukan kegiatan pemantauan jentik rutin (PJR) di rumah-rumah warga di sekitar sekolah mereka dalam radius sekitar 100 Meter. Mereka adalah para Siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 5 dan kelas 6, dan merupakan Dokter Cilik atau yang biasa di singkat Dokcil yang dilibatkan untuk melakukan kegiatan PJR dalam setiap pekannya. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk mengantisipasi semakin merebaknya wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kota Semarang beberapa tahun belakangan ini.

Sebenarnya kajian kerentanan Kota Semarang terhadap Dengue dan kaitannya dengan variabel iklim telah dilaksanakan sebelumnya melalui kerjasama dengan Pusat Perubahan Iklim ITB pada  tahun 2014, dimana kajian tersebut melibatkan berbagai institusi dan organisasi pemerintah maupun swasta yang merupakan bagian dari mitra program Action Changing the Incidence of Vector Borne Endemic Diseasees (ACTIVED). Program ini sendiri diinisiasi oleh Mercycorps yang merupakan perwakilan Asians Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN) di Indonesia, dan pada tahun ini telah dilakukan kerjasama lanjutan untuk menindaklanjuti kerjasama yang sebelumnya.

Beberapa hasil dari kegiatan ini diantaranya adalah telah terpetakan posisi geografis wilayah administratif di Kota Semarang sesuai sesuai dengan kerentanannya terhadap Dengue, terujinya hubungan antara variabel iklim dan Dengue, terkonfirmasinya populasi yang paling rentan terhadap perjalanan penyakit dengue yang berat/ fatal, serta terdokumentasikannya analisa kapasitas dan peluang adaptasi Kota Semarang untuk pengendalian Dengue. Dan juga usulan untuk penyediaan suatu sistem peringatan dini (Early Warning System) yang dapat menjadi sarana untuk lebih meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya DBD.

Berita Terkait